Posted by TANPA SUARA on Selasa, 28 Juni 2016
Akibat dari terbatasnya
pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat memunculkan sikap curiga dan malas mencari
tahu kebenaran. Sikap malas ini, di sisi lain menunjukkan bahwa karakter sosial
telah dan sedang dimatikan oleh sistem sebagai
akibat dari penetrasi sosial budaya.
Posted by TANPA SUARA on Minggu, 12 Juni 2016
 |
| (Suasana Saat Acara Perpisahan di Halaman SMP YPPK Epouto, TS/IPOu) |
Epouto, TANPA SUARA_ Sabtu, (11/6/2016), Pukul
10 WIT, Sekolah Menengah Pertama Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (SMP
YPPK) Epouto, Distrik Yatamo, Kabupaten Paniai telah melakukan acara perpisahan
sekaligus pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) kepada 32 siswa/i yang telah
menjadi peserta UN pada bulan Maret lalu. Acara yang berlangsung di halaman SMP
YPPK Epouto ini dihadiri oleh orang tua peserta UN dan para tamu undangan serta
simpatisan.
Posted by TANPA SUARA on Minggu, 27 Desember 2015
 |
|
| (Foto saat
mahasiswa Papua di Yogyakarta yang tergabung dalam Gempa-KPH-Berapi,
menuntut penuntasan kasus penembakan di Paniai. Dok TS) |
|
Tulisan ini sebagai
tanggapan atas kekecewaan Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr Leo Laba Ladjar OFM dalam
menanggapi suara kenabian dari para Rohaniawan yang tergabung dalam Solidaritas Korban Pelanggaran (SKP)
HAM Papua.
Oleh Mikael Tekege
Berbagai
kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terus terjadi di tanah Papua tanpa
adanya upaya penyelesaian dari pihak-pihak berwajib. Semua persoalan
pelanggaran HAM yang melibatkan oknum militer dan polisi itu menempatkan
masyarakat Papua pada posisi korban. Para militer dan polisi tidak pernah menyadari
apa yang telah diperbuat terhadap masyarakat Papua yang selama ini korban.
Bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun hingga menambah sederet kasus
pelanggaran HAM yang kini menjadi ingatan akan penderitaan (Memoria Passionis) masyarakat Papua
Posted by TANPA SUARA on Minggu, 20 Desember 2015
 |
| (Foto Dok: Arman Dhani) |
Jadi begini. Mari kita sama sama sepakati definisi
penjajahan. Setelah itu mari kita uji definisi tadi ke beberapa tanah dan pulau
di luar jawa. Ini penting, maksudku, untuk bisa membuat kita, aku dan kamu
menjadi tercerahkan. Jangan jangan apa yang kita bilang nasionalisme, apa yang
kita sebut kesatuan sebenarnya adalah penjajahan dengan gincu yang terlalu.
Posted by TANPA SUARA on Sabtu, 19 Desember 2015
 |
| (Foto dok pribadi TS, ASLI) |
TANPA SUARA_ Pada
akhir-akhir ini, saya sebagai orang Papua, pikiran saya terganggu ketika
permasalahan kontrak karya PT. Freeport Indonesia yang mengeruk perut bumi
Timika Papua itu diperbincangkan melalui berbagai media cetak maupun elektronik
dengan topik “Papa Minta Saham” yang
kemudian mengalahkan pemberitaan lainnya. Persoalan itu muncul ketika
pemerintah mewajibkan perusahaan asal Amerika itu melepaskan sebagian sahamnya
kepada pemerintah Indonesia (divestasi) dan membangun smelter (pemurnian bahan
tambang). Semua biaya pembangunan smelter ini, diserahkan kepada perusahaan
raksasa ini. Namun sebagai perusahaan yang mengejar keuntungan
sebesar-besarnya, tentu merasa rugi dengan syarat yang diwajibkan oleh
pemerintah ini.
Posted by TANPA SUARA on Selasa, 15 Desember 2015
 |
| (Cover Buku, PHP) |
Judul
Buku : PHP (Politik Harapan
Palsu)
Penulis : Andi Setiadi
Tebal : iii+175 Halaman
Penerbit : IRCiSoD
Tahun
terbit : 2013
ISBN : 978-602-255-402-8
Dalam setiap
kampanye, janji-janji politik yang telah
menjadi hal lumrah, baik menjelang pemilihan kepala desa, bupati, gubernur,
legislatif hingga presiden. Sayangnya,
janji-janji tersebut seringkali tak sejalan dengan apa yang kelak mereka
lakukan. Banyak fenomena menunjukkan kepada rakyat bahwa para pejabat bekerja
tak lebih dari menunpuk materi demi
keuntungan pribadi dan golongannya saja. Janji politik yang sering kita dengar
dalam setiap pemilu rupanya tak lebih dari sekedar instrumen politik yang
sengaja dikonsep demi kepentingan sesaat.
Posted by TANPA SUARA on Sabtu, 12 Desember 2015
Oleh: Mikael Kudiai
Suatu ketika, Gaja, Harimau, Singa dan beberapa
binatang kuat lainnya berkumpul. Mereka berkumpul dan mendirikan suatu sistem
kurikulum pendidikan. Hampir sebulan mereka memutuskan untuk membuat tiga
kurikulum pembelajaran untuk semua siswa. Pembelajaran tersebut meliputi
berbicara, terbang dan lari. Semua murid akan memperoleh pendidikan yang sama.
Posted by TANPA SUARA on Selasa, 08 Desember 2015
 |
| (Foto: fb; Dok pribadi Yuven Tkg) |
TANPA
SUARA: "Apa benar demikian adanya negara ini?"
Pertanyaan atas pernyataan huruf kapital di atas ini, pastinya banyak persepsi
dan banyak jawaban akan bermunculan. Ada warga negara Indonesia yang
mengatakan, YA benar "bagi mereka yang menderita karena kelakuan
Negara". Ada yang mengatakan dengan tegas mengatakan "TIDAK"
bagi mereka yang menjalankan kuasanya dengan tangan besi dan lidah pedang
bermata dua. Ada pula yang mengatakan, TIDAKlah demikian kok "bagi mereka
yang hidupnya hanya demi dirinya dan keluarganya". Mungkin ada juga yang
hanya berkerut kening saja setelah membaca pernyataan di atas ini. Pasti ada
juga yang hanya like saja ketika melihat muncul di dunia maya, tanpa merenung
barang 5 menit akan apa maksud pernyataan ini, dan lain-lain. Kesemua
jawabannya hanya berdasarkan "realita hidup ragawi" semata sebagai
warga negara Indonesia.
Posted by TANPA SUARA on Rabu, 25 November 2015
 |
| (Ilustrasi Burung Wiguwi Google.com) |
WIGUWI, demikian nama burung
hitam yang paling dikenal oleh masyarakat Meeuwo
(Paniai, Dogiyai dan Deiyai). Kata “wiguwi”
sudah tidak asing lagi bagi masyarakat suku Mee. Wiguwi merupakan sejenis burung yang menyebarkan informasi apapun
yang telah, sedang dan akan terjadi dalam kehidupan masyarakat suku Mee pada
masa lalu. Jenis burung ini terdapat di setiap kampung (Meeuwo), namun penyebutan nama burung ini berbeda-beda. Misalnya;
masyarakat di bagian Timur Meeuwo
menyebut “Egeida” sedangkan di bagian Barat menyebut “Wiguwi”.
Posted by TANPA SUARA on Rabu, 14 Oktober 2015
17
December 2012
SETELAH berakhirnya kekuasaan Orde Baru Soeharto, buku-buku
perlawanan kini semakin mudah dijumpai di toko-toko buku besar.Salah satunya
buku-buku dari Eko Prasetyo. Berbagai buku perlawanan yang ia tulis seperti Orang Miskin Dilarang
Sakit, Orang Miskin Dilarang
Sekolah, Orang Miskin Tanpa
Subsidi, Awas, Penguasa Tipu
Rakyat!, Demokrasi Tidak untuk Rakyat, Inilah Presiden Radikal, Guru Mendidik
itu Melawan, dan sebagainya, dapat
dengan mudah kita jumpai di toko-toko buku besar. Dengan gaya tulisan yang
ringan dan seringkali comical, Eko Prasetyo
menghadirkan kritik sekaligus ajakan yang cukup provokatif kepada para
pembacanya untuk selalu melawan berbagai ketidakadilan yang hadir dalam
kehidupan sehari-hari.
Posted by TANPA SUARA on Selasa, 13 Oktober 2015
 |
| (Pasar Mama-mama Papua di Jayapura yang sedang dibongkar untuk renovasi, Foto:Dok/TS) |
Siang itu, di
Jayapura, sekitar pukul 9.29 WIT, Senin
24/8/2015. Panas matahari membakar kulit bumi. Banyak orang berlalu-lalang dan
menyibukkan diri dengan aktifitas masing-masing. Ada yang berpakaian dinas yang
sibuk dengan urusan kantor, ada yang berjualan, dan banyak aktifitas lainnya.
Dalam konteks demikian, ada yang menarik perhatian saya pada saat itu, ada
sekelompok orang yang menyibukkan diri dengan aktifitas yang mengundang banyak
pertanyaan dalam benak saya.
Posted by TANPA SUARA on
Dipenghujung senja
Riuh ombak laut
Menghantam karang
Membenam jiwa dan
impian
Posted by TANPA SUARA on
Di tengah dunia
Terlukis banyak kisah
Membenam dalam jiwa
Bahkan pada helai kertas
Posted by TANPA SUARA on
Tak lelah Detak waktu
Mengitari pusar buana
Tiap insan berpacu
Tentang harapan tanpa batas
Posted by TANPA SUARA on
Entalah saat sejak pertama kali,
Mengubah masa mudah penuh ceriah,
Meraut lajur-lajur pada raga keindahan,
Hidup dalam kebahagiaan duniawi,
Posted by TANPA SUARA on Jumat, 07 Agustus 2015
Yogyakarta,
TANPA SUARA:-Mahasiswa Yogyakarta yang tergabung dalam
Komunitas Peduli Kampung (KPK) melaksanakan diskusi lanjutan dengan topik
“Ciri-ciri Makhluk Hidup”di Morokangen, Yogyakarta pada (07/03/14), pukul 11.10
WIB.
Pemateri dalam diskusi ini adalah Melkias Tekege
dan dipandu oleh moderator Dance Kayame. Sementara, notulensinya adalah Bendi
Degei. Pemateri memaparkan bahwa makhluk hidup merupakan sesuatu yang hidup dan
berkembang biak dilingkungan hidupnya atau mampu beradapsi lingkungan dengan hidupnya.
Posted by TANPA SUARA on
“Perlunya mahasiswa
berdinamika dalam perjuangan studi untuk pengembangan diri guna memperdalam
pengetahuan dengan melaksanakan dan menjalankan kewajiban, tugas dan fungsinya”.
Yogyakarta-TANPA
SUARA- Mahasiswa yang tergabung dalam “Komunitas
Peduli Kampung” menggelar Diskusi tentang
Dinamika Perjuangan Dalam Perjalanan Studi”, di Asrama Papua, Kamasan 1, selasa, (21/01/2015), pukul 19:00-22 WIB.
Posted by TANPA SUARA on
 |
| (Ilustrasi Google.com/TS) |
Yogyakarta,
TANPA SUARA_ Komunitas
Peduli Kampung (KPK) menggelar diskusi
pada pukul, 19: 40 WIB, di Asrama Papua, Kamasan 1 Yogyakarta dengan
topik tentang “Peduli Kampung di Papua”. Pemateri, Bendi, mengatakan kita
berbicara mengenai kampung atau desa di Papua tidak terlepas dari dasar hukum,
yakni Undang-undang No. 21 tahun 2001
tentang Otonomi Khusus bagi Papua dan Papua Barat dan juga Undang-undang No. 6
tahun 2014 tentang Desa.
Posted by TANPA SUARA on
 |
| (Foto: Saat Barapan di Kali APY Yogyakarta, Dok: TS) |
“Semua persoalan itu akan dijawab oleh
orang Papua, terutama generasi muda Papua yang memiliki hati dan panggilan jiwa
yang benar-benar mengabdi demi keselamatan masyarakat bangsa Papua”,
(Dance Kayame, 27 Mei 2015)
Yogyakarta-TANPA
SUARA-Mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Peduli Kampung (KPK) menggelar
diskusi bedah buku karya Prof. Dr. Hj. Sedarmasyanti, Dra., M., Pd, (2004 ) yang
berjudul Good Governance: Membangun Sistem Kinerja Guna Meningkatkan
Produktivitas Menuju Good Governance , pada hari Rabu, 27 Mei 2015 di
Asrama Papua, Kamasan 1 Yogyakarta.
Diskusi kali ini dengan pemateri Benediktus Degei, panggilan
akrab Bendi dan dipandu oleh Dance Kayame, sebagai moderator. Bendi
menyampaikan bahwa sebagai mahasiswa tentunya sudah mengetahui berbagai macam
persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Papua dan masyarakat Indonesia pada
umumnya di semua aspek kehidupan. Apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab
pemerintah untuk mewujudkan good
governance tidak direalisasikan dengan baik sehingga muncul banyak
persoalan.
Posted by TANPA SUARA on Minggu, 19 Juli 2015
 |
| (Foto, kerusuhan Tolikara. google.com/TS) |
“Perbuatan
kejam, curang, dan irreligius meningkatkan martabat penguasa baru dalam sebuah
negara saat kemanusiaan, ketangguhan, dan agama tidak mempunyai kekuatan lagi” (Machiavelli,
1506)
Mendengar
kata Papua, pemikiran orang tentu akan mengarah pada dua pandangan yang
berbeda, yakni: pertama, meilihat
Papua dari kekayaan dan keindahan alamnya atau disebut surga kecil jatuh ke
bumi; dan kedua, Papua diidentikkan dengan berbagai macam konflik kepentingan
yang mengorbankan harta benda bahkan nyawa masyarakat Papua. Dari kedua
pandangan tersebut, secara umum barangkali orang bertanya, apakah Papua adalah
surga atau nerakah?