Terang Dalam Kegelapan

(sumber foto:www.gosocio.co.id.)


Akibat dari terbatasnya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat memunculkan sikap curiga dan malas mencari tahu kebenaran. Sikap malas ini, di sisi lain menunjukkan bahwa karakter sosial telah dan sedang dimatikan oleh sistem  sebagai akibat dari penetrasi sosial budaya.

SMP YPPK Epouto Gelar Acara Perpisahan Sekaligus Pengumuman Hasil UN

(Suasana Saat Acara Perpisahan di Halaman SMP YPPK Epouto, TS/IPOu)


Epouto, TANPA SUARA_ Sabtu, (11/6/2016), Pukul 10 WIT, Sekolah Menengah Pertama Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (SMP YPPK) Epouto, Distrik Yatamo, Kabupaten Paniai telah melakukan acara perpisahan sekaligus pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) kepada 32 siswa/i yang telah menjadi peserta UN pada bulan Maret lalu. Acara yang berlangsung di halaman SMP YPPK Epouto ini dihadiri oleh orang tua peserta UN dan para tamu undangan serta simpatisan.

Ini “Kurang Ajar” yang Sebenarnya

(Foto  saat mahasiswa Papua di Yogyakarta  yang tergabung dalam Gempa-KPH-Berapi, menuntut penuntasan kasus penembakan di Paniai. Dok TS)

Tulisan ini sebagai tanggapan atas kekecewaan Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr Leo Laba Ladjar OFM dalam menanggapi suara kenabian dari para Rohaniawan yang tergabung dalam Solidaritas Korban Pelanggaran (SKP) HAM Papua.
Oleh Mikael Tekege
Berbagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terus terjadi di tanah Papua tanpa adanya upaya penyelesaian dari pihak-pihak berwajib. Semua persoalan pelanggaran HAM yang melibatkan oknum militer dan polisi itu menempatkan masyarakat Papua pada posisi korban. Para militer dan polisi tidak pernah menyadari apa yang telah diperbuat terhadap masyarakat Papua yang selama ini korban. Bahkan tidak merasa bersalah sedikit pun hingga menambah sederet kasus pelanggaran HAM yang kini menjadi ingatan akan penderitaan (Memoria Passionis) masyarakat Papua

Penjajahan


(Foto Dok: Arman Dhani)

Jadi begini. Mari kita sama sama sepakati definisi penjajahan. Setelah itu mari kita uji definisi tadi ke beberapa tanah dan pulau di luar jawa. Ini penting, maksudku, untuk bisa membuat kita, aku dan kamu menjadi tercerahkan. Jangan jangan apa yang kita bilang nasionalisme, apa yang kita sebut kesatuan sebenarnya adalah penjajahan dengan gincu yang terlalu.

Papa Minta Saham, Papua Minta Keadilan



(Foto dok pribadi TS, ASLI)

TANPA SUARA_ Pada akhir-akhir ini, saya sebagai orang Papua, pikiran saya terganggu ketika permasalahan kontrak karya PT. Freeport Indonesia yang mengeruk perut bumi Timika Papua itu diperbincangkan melalui berbagai media cetak maupun elektronik dengan topik  “Papa Minta Saham” yang kemudian mengalahkan pemberitaan lainnya. Persoalan itu muncul ketika pemerintah mewajibkan perusahaan asal Amerika itu melepaskan sebagian sahamnya kepada pemerintah Indonesia (divestasi) dan membangun smelter (pemurnian bahan tambang). Semua biaya pembangunan smelter ini, diserahkan kepada perusahaan raksasa ini. Namun sebagai perusahaan yang mengejar keuntungan sebesar-besarnya, tentu merasa rugi dengan syarat yang diwajibkan oleh pemerintah ini.

PHP “Politik Harapan Palsu”


(Cover Buku, PHP)
Judul Buku            : PHP (Politik Harapan Palsu)
Penulis                  : Andi Setiadi
Tebal                    : iii+175 Halaman
Penerbit                : IRCiSoD
Tahun terbit          : 2013
ISBN                      : 978-602-255-402-8

Dalam setiap kampanye,  janji-janji politik yang telah menjadi hal lumrah, baik menjelang pemilihan kepala desa, bupati, gubernur, legislatif hingga presiden.  Sayangnya, janji-janji tersebut seringkali tak sejalan dengan apa yang kelak mereka lakukan. Banyak fenomena menunjukkan kepada rakyat bahwa para pejabat bekerja tak lebih dari menunpuk materi  demi keuntungan pribadi dan golongannya saja. Janji politik yang sering kita dengar dalam setiap pemilu rupanya tak lebih dari sekedar instrumen politik yang sengaja dikonsep demi kepentingan sesaat.

Membayangkan Sekolah Binatang



Oleh: Mikael Kudiai

Suatu ketika, Gaja, Harimau, Singa dan beberapa binatang kuat lainnya berkumpul. Mereka berkumpul dan mendirikan suatu sistem kurikulum pendidikan. Hampir sebulan mereka memutuskan untuk membuat tiga kurikulum pembelajaran untuk semua siswa. Pembelajaran tersebut meliputi berbicara, terbang dan lari. Semua murid akan memperoleh pendidikan yang sama.

Negara Republik Indonesia; Negara Republik Serigala yang Rakus dan Kelaparan pada Anak-anaknya - juga Sesama Makluk



(Foto: fb; Dok pribadi Yuven Tkg)

TANPA SUARA: "Apa benar demikian adanya negara ini?" Pertanyaan atas pernyataan huruf kapital di atas ini, pastinya banyak persepsi dan banyak jawaban akan bermunculan. Ada warga negara Indonesia yang mengatakan, YA benar "bagi mereka yang menderita karena kelakuan Negara". Ada yang mengatakan dengan tegas mengatakan "TIDAK" bagi mereka yang menjalankan kuasanya dengan tangan besi dan lidah pedang bermata dua. Ada pula yang mengatakan, TIDAKlah demikian kok "bagi mereka yang hidupnya hanya demi dirinya dan keluarganya". Mungkin ada juga yang hanya berkerut kening saja setelah membaca pernyataan di atas ini. Pasti ada juga yang hanya like saja ketika melihat muncul di dunia maya, tanpa merenung barang 5 menit akan apa maksud pernyataan ini, dan lain-lain. Kesemua jawabannya hanya berdasarkan "realita hidup ragawi" semata sebagai warga negara Indonesia.

Jujur Itu Milik Wiguwi



(Ilustrasi Burung Wiguwi Google.com)

WIGUWI, demikian nama burung hitam yang paling dikenal oleh masyarakat Meeuwo (Paniai, Dogiyai dan Deiyai). Kata “wiguwi” sudah tidak asing lagi bagi masyarakat suku Mee. Wiguwi merupakan sejenis burung yang menyebarkan informasi apapun yang telah, sedang dan akan terjadi dalam kehidupan masyarakat suku Mee pada masa lalu. Jenis burung ini terdapat di setiap kampung (Meeuwo), namun penyebutan nama burung ini berbeda-beda. Misalnya; masyarakat di bagian Timur Meeuwo menyebut  Egeida” sedangkan di bagian Barat  menyebut “Wiguwi”.

Eko Prasetyo: Menulis BUKAN Tamasya Pemikiran!



17 December 2012


SETELAH berakhirnya kekuasaan Orde Baru Soeharto, buku-buku perlawanan kini semakin mudah dijumpai di toko-toko buku besar.Salah satunya buku-buku dari Eko Prasetyo. Berbagai buku perlawanan yang ia tulis seperti Orang Miskin Dilarang Sakit, Orang Miskin Dilarang Sekolah, Orang Miskin Tanpa Subsidi, Awas, Penguasa Tipu Rakyat!, Demokrasi Tidak untuk Rakyat, Inilah Presiden Radikal, Guru Mendidik itu Melawan, dan sebagainya, dapat dengan mudah kita jumpai di toko-toko buku besar. Dengan gaya tulisan yang ringan dan seringkali comical, Eko Prasetyo menghadirkan kritik sekaligus ajakan yang cukup provokatif kepada para pembacanya untuk selalu melawan berbagai ketidakadilan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka Ingin Berdamai dengan Terik Matahari



(Pasar Mama-mama Papua di Jayapura yang sedang dibongkar untuk renovasi, Foto:Dok/TS)

Siang itu, di Jayapura,  sekitar pukul 9.29 WIT, Senin 24/8/2015. Panas matahari membakar kulit bumi. Banyak orang berlalu-lalang dan menyibukkan diri dengan aktifitas masing-masing. Ada yang berpakaian dinas yang sibuk dengan urusan kantor, ada yang berjualan, dan banyak aktifitas lainnya. Dalam konteks demikian, ada yang menarik perhatian saya pada saat itu, ada sekelompok orang yang menyibukkan diri dengan aktifitas yang mengundang banyak pertanyaan dalam benak saya.

Yang Terlupakan



Dipenghujung senja
Riuh ombak laut
Menghantam karang
Membenam jiwa dan impian

Kisah Manusia



Di tengah dunia
Terlukis banyak kisah
Membenam dalam jiwa
Bahkan pada helai kertas

Tertinggal Waktu



Tak lelah Detak waktu
Mengitari pusar buana
Tiap insan berpacu
Tentang harapan tanpa batas

Aku dan Waktu



Entalah saat sejak pertama kali,
Mengubah masa mudah penuh ceriah,
Meraut lajur-lajur  pada raga keindahan,
Hidup dalam kebahagiaan duniawi,

Makhluk Hidup dan Reproduksi



Yogyakarta, TANPA SUARA:-Mahasiswa Yogyakarta yang tergabung dalam Komunitas Peduli Kampung (KPK) melaksanakan diskusi lanjutan dengan topik “Ciri-ciri Makhluk Hidup”di Morokangen, Yogyakarta pada (07/03/14), pukul 11.10 WIB. 

Pemateri dalam diskusi ini adalah Melkias Tekege dan dipandu oleh moderator Dance Kayame. Sementara, notulensinya adalah Bendi Degei. Pemateri memaparkan bahwa makhluk hidup merupakan sesuatu yang hidup dan berkembang biak dilingkungan hidupnya atau mampu beradapsi lingkungan dengan hidupnya.

Mahasiswa: antara Berjuang dan Sukses



“Perlunya mahasiswa berdinamika dalam perjuangan studi untuk pengembangan diri guna memperdalam pengetahuan dengan melaksanakan dan menjalankan kewajiban, tugas dan fungsinya”.

Yogyakarta-TANPA SUARA- Mahasiswa yang tergabung dalam “Komunitas Peduli Kampung”  menggelar Diskusi tentang Dinamika Perjuangan Dalam Perjalanan Studi”, di Asrama Papua, Kamasan 1,  selasa, (21/01/2015), pukul 19:00-22 WIB.

Kampung Membangun



(Ilustrasi Google.com/TS)

Yogyakarta, TANPA SUARA_ Komunitas Peduli Kampung (KPK) menggelar diskusi  pada pukul, 19: 40 WIB, di Asrama Papua, Kamasan 1 Yogyakarta dengan topik tentang “Peduli Kampung di Papua”. Pemateri, Bendi, mengatakan kita berbicara mengenai kampung atau desa di Papua tidak terlepas dari dasar hukum, yakni  Undang-undang No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Papua dan Papua Barat dan juga Undang-undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa.

Hanya Orang Papua yang Bisa



(Foto: Saat Barapan di Kali APY Yogyakarta, Dok: TS)

“Semua persoalan itu akan dijawab oleh orang Papua, terutama generasi muda Papua yang memiliki hati dan panggilan jiwa yang benar-benar mengabdi demi keselamatan masyarakat bangsa Papua”, (Dance Kayame, 27 Mei 2015)

Yogyakarta-TANPA SUARA-Mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Peduli Kampung (KPK) menggelar diskusi bedah buku karya Prof. Dr. Hj. Sedarmasyanti, Dra., M., Pd, (2004 ) yang berjudul Good Governance: Membangun Sistem Kinerja Guna Meningkatkan Produktivitas Menuju Good Governance , pada hari Rabu, 27 Mei 2015 di Asrama Papua, Kamasan 1 Yogyakarta.
Diskusi kali ini dengan pemateri Benediktus Degei, panggilan akrab Bendi dan dipandu oleh Dance Kayame, sebagai moderator. Bendi menyampaikan bahwa sebagai mahasiswa tentunya sudah mengetahui berbagai macam persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Papua dan masyarakat Indonesia pada umumnya di semua aspek kehidupan. Apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab pemerintah untuk mewujudkan good governance tidak direalisasikan dengan baik sehingga muncul banyak persoalan.

Kasus Tolikara dari Kacamata Transpolitika


(Foto, kerusuhan Tolikara. google.com/TS)

“Perbuatan kejam, curang, dan irreligius meningkatkan martabat penguasa baru dalam sebuah negara saat kemanusiaan, ketangguhan, dan agama tidak mempunyai kekuatan lagi” (Machiavelli, 1506)

Mendengar kata Papua, pemikiran orang tentu akan mengarah pada dua pandangan yang berbeda, yakni: pertama, meilihat Papua dari kekayaan dan keindahan alamnya atau disebut surga kecil jatuh ke bumi; dan kedua, Papua diidentikkan dengan berbagai macam konflik kepentingan yang mengorbankan harta benda bahkan nyawa masyarakat Papua. Dari kedua pandangan tersebut, secara umum barangkali orang bertanya, apakah Papua adalah surga atau nerakah?